1.
Pendekatan
Kepemimpinan Transformasional
Pendekatan Kepemimpinan
Transformasional awalnya digagas oleh James MacGregor Burns tahun 1978.[16] Ia
membedakan 2 jenis kepemimpinan yaitu Kepemimpinan Transaksional dan lawannya,
Kepemimpinan Transformasional.
Pemimpin bercorak transaksional
adalah mereka yang memimpin lewat pertukaran sosial. Misalnya, politisi
memimpin dengan cara “menukar satu hal dengan hal lain: pekerjaan dengan suara,
atau subsidi dengan kontribusi kampanye. Pemimpin bisnis bercorak transaksional
menawarkan reward finansial bagi produktivitas atau tidak memberi reward
atas kurangnya produktivitas.
Pemimpin bercorak transformasional
adalah mereka yang merangsang dan mengispirasikan pengikutnya, baik untuk
mencapai sesuatu yang tidak biasa dan, dalam prosesnya, mengembangkan kapasitas
kepemimpinannya sendiri. Pemimpin transformasional membantu pengikutnya untuk
berkembang dan membuat mereka jadi pemimpin baru dengan cara merespon
kebutuhan-kebutuhan yang bersifat individual dari para pengikut. Mereka
memberdayakan para pengikut dengan cara menselaraskan tujuan yang lebih besar
individual para pengikut, pemimpin, kelompok, dan organisasi.
Kepemimpinan Transformasional dapat
mengubah pengikut melebihi kinerja yang diharapkan, sebagaimana mereka mampu
mencapai kepuasan dan komitmen pengikut atas kelompok ataupun organisasi.
Matriks pendekatan Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional tampak
sebagai berikut: [17]
Kepemimpinan Transformasional punya
sejumlah komponen sebagai berikut
1. Pengaruh yang Diidealkan (Idealized Influence) –
Pemimpin transformasional berperilaku dengan cara yang memungkinkan mereka
dianggap sebagai model ideal bagi pengikutnya. Pemimpin dikagumi, dihargai, dan
dipercayai. Pengikut mengidentifikasi diri mereka dengan pemimpin dan ingin
menirunya. Pemimpin dipandang pengikutnya punya kemampuan, daya tahan, dan
faktor penentu yang luar biasa.
Item pertanyaan untuk mengukur Idealized
Influence adalah “Pemimpin menenkankan pentingnya seluruh kelompok punya
misi bersama” atau “Pemimpin memberi keyakinan bahwa hambatan pasti bisa
dilalui.”
2. Motivasi
yang Inspiratif (Inspirational Motivation)- Pemimpin
transformasional berperilaku dengan cara yang mampu memotivasi dan
menginspirasi orang-orang yang ada di sekeliling mereka dengan memberi makna
dan tantangan atas kerja yang dilakukan oleh para pengikutnya. Semangat tim
meningkat. Antusiasme dan optimisme ditunjukkan.
Idealized Influence dan Inspirational Motivational
secara bersama-sama membentuk Faktor kepemimpinan Karismatik-Inspirational yang
serupa dengan kepemimpinan seperti dimaksud teori kepemimpinan karismatik.
Contoh item pertanyaan guna mengukur Inspirational Motivation adalah
“Pemimpin mampu menjelaskan visi yang harus dicapai di masa mendatang.”
3. Stimulasi
Intelektual (Intellectual Stimulation) – Pemimpin
transformasional merangsang usaha pengikutnya untuk kreatif dan inovatif dengan
mempertanyakan anggapan dasar (asumsi), memetakan masalah, dan memperbaharui
pendekatan-pendekatan lama. Kreativitas kemudian terbentuk. Pengikut jadi
berani mencoba pendekatan-pendekatan baru dan gagasan mereka tidak dikritik
karena beda dengan gagasan pemimpin.
Contoh item pertanyaan guna mengukur
Intellectual Stimulation adalah “Pemimpin membuat bawahan mampu melihat
persoalan dari aneka sudut pandang.”
4. Pertimbangan
Individual (Individualized Consideration) – Pemimpin
transformasional memberi perhatian khusus atas kebutuhan setiap pengikut dalam
rangka mencapai prestasi dan perkembangan dengan bertindak sekaligus pelatih
dan pembimbing. Pengikut dan para kolega mampu mencapai potensi tertinggi
mereka. Pertimbangan individual diterapkan tatkala satu kesempatan belajar baru
diciptakan bersamaan dengan iklim yang mendukung. Perbedaan kebutuhan dan
hasrat individual diakui. Pemimpin menunjukkan penerimaan atas perbedaan
individual tersebut.
Contoh item pertanyaan untuk Individualized
Consideration adalah “Pemimpin meluangkan waktu untuk melatih dan mengajar
tim kerjanya.”
Seperti telah disebutkan sebelumnya,
lawan dari kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan transaksional.
Kepemimpinan transaksional muncul tatkala reward atau punishment
dilakukan oleh pemimpin atas pengikut akibat kinerja yang terakhir (pengikut).
Kepemimpinan transaksional bergantung pada penguatan terus-menerus, baik reward
berlanjut yang bersifat positif (CR/Contingent Reward) atau bentuk aktif
atau pasif dari manajemen dengan pengecualian (management-by-exception)
(MBE-A atau MBE-P).
Komponen dalam kepemimpinan
transaksional sebagai berikut:
1. Contingent Reward (CR). Transaksi konstruktif ini
terbukti efektif dalam memotivasi orang lain untuk mencapai kinerja tertinggi
mereka, kendati tidak sebesar komponen kepemimipinan transformasional.
Kepemimpinan Contingent Reward melibatkan pemberian pekerjaan oleh
pemimpin atau menambah persetujuan pengikut atas kebutuhan apa yang harus
dituntaskan dengan janji atau reward aktual yang ditawarkan dalam
pertukarannya dengan derajat kepuasan yang muncul dari pekerjaan tersebut.
Contoh item untuk mengukur Contingent
Reward adalah “Pemimpin menjelaskan apa yang orang bisa peroleh jika tujuan
dari kinerja dicapai.”
2. Management-by-Exception (MBE). MBE terdiri atas Management-by-Exception
Aktif (MBE-A) dan Management-by-Exception Pasif (MBE-P). Dalam MBE-A,
pemimpin secara aktif merancang perangkat guna memantau penyelewengan dari standard,
kesalahan, dan error yang ditunjukkan oleh pengikut untuk selanjutnya
dilakukan langkah-langkah perbaikan. Dalam MBE-P, pemimpin secara pasif
menunggu terjadinya penyelewengan, kesalahan, dan error untuk muncul terlebih
dahulu baru kemudian mengambil langkah perbaikan. MBE-A efektif untuk dilakukan
dalam situasi pekerjaan yang penuh bahaya. MBE-P efektif untuk dilakukan
tatkala pemimpin membawahi pengikut yang cukup banyak dan mereka melakukan
pelaporan kepadanya. Contoh item MBE-A adalah “Pemimpin mengarahkan perhatian
agar kesalahan yang terjadi diperbaiki hingga sesuai dengan yang diharapkan.”
Contoh item MBE-P adalah “Pemimpin
tidak mengambil tindakan hingga keluhan diterima oleh mereka.”
3. Laissez-Faire Leadership (LF).
Kepemimpinan Laissez-Faire adalah penghindaran atau ketiadaan kepemimpinan, dan
merupakan kepemimpinan yang paling tidak efektif. JIka dibandingkan dengan
kepemimpinan transaksional, laisses-faire tidak menunjukkan transaksi
sama sekali. Keputusan-keputusan yang diperlukan tidak dibuat. Tindakan
ditunda. Wewenang kepemimpinan diabaikan. Otoritas tidak digunakan.
Sampel dari item laissez-faire
adalah “Pemimpin menghindari keterlibatan dirinya tatkala muncul masalah penting.”
Bagan Lengkap item pertanyaan untuk
kepemimpinan transformasional dan transaksional sebagai berikut:[18]
SKALA
|
ITEM PERTANYAAN
|
Tranformasional
|
|
Idealized-Influence
(Attibuted Charisma)
|
Pemimpin
menanamkan kebanggaan pada diri saya karena saya bergabung dengan mereka.
|
Idealized-Influence
(Perilaku)
|
Pemimpin
merinci pentingnya memiliki tujuan dalam bekerja.
|
Inspirational
Motivation
|
Pemimpin
menyatakan visi-visi yang menarik di masa depan.
|
Intellectual
Stimulation
|
Pemimpin
selalu mengupayakan cara pandang yang berbeda dalam menyelesaikan masalah.
|
Individual
Consideration
|
Pemimpin
kerap meluangkan waktu untuk mengajari dan melatih bawahannya.
|
Transaksional
|
|
Contingent
Reward
|
Pemimpin
jelas membedakan apa yang akan saya peroleh lewat kinerja tertentu.
|
Management-By-Exception
Aktif
|
Pemimpin
fokus pada ketidakteraturan, kesalahan, pengecualian, dan penyimpangan atas
standar kerja.
|
Management-By-Exception
Pasif
|
Pemimpin
menunjukkan bahwa ia yakin bahwa kalau tidak ada masalah, jangan
mengutak-kutik sesuatu.
|
Laissez-Faire
|
Pemimpin kerap menunda tanggapan atas
masalah atau permintaan penting.
|
2.
Kepemimpinan
Kharismatik
Teori
kepemimpinan kharismatik pertama kali diusung oleh Max Weber. Kharismatik
berasal dari kata “kairismos”, dalam bahasa Yunani memiliki makna seseorang
yang terberkati dan terinspirasi secara agung; juga diartikan sebagai hadiah
yang diberikan oleh para dewa kepada seseorang. Artinya seseorang dikatakan
karismatik apabila orang tersebut memiliki berkat atau talenta yang banyak
memikat para pengikutnya secara luar biasa. Max Weber, mendefinisikan karisma
(yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “anugerah”) sebagai “suatu sifat
tertentu dari seseorang, yang membedakan mereka dari orang kebanyakan dan
biasanya dipandang sebagai kemampuan atau kualitas supernatural, manusia super,
atau paling tidak daya-daya istimewa. Kemampuan-kemampuan ini tidak dimiliki
oleh orang biasa, tetapi dianggap sebagai kekuatan yang bersumber dari yang
Ilahi, dan berdasarkan hal ini seseorang kemudian dianggap sebagai seorang
pemimpin (Yukl, 2001; Sashkin, 2003). Weber berpendapat bahwa kepemimpinan
karismatik merupakan salah satu jenis otoritas yang ideal.
Menurut Weber seorang pemimpin kharismatik
muncul pada saat terjadi suatu krisis sosial, di mana sang pemimpin muncul
dengan sebuah visi radikal yang menawarkan sebuah solusi untuk mengatasi krisis
tersebut. Sang Pemimpin menarik pengikutnya yang percaya pada visi yang
diusungnya secara luar biasa sehingga para pengikutnya percaya bahwa orang yang
memimpin mereka adalah orang yang luar bisasa “yang memiliki sesuatu” yang
berbeda dari orang kebanyakan. Kepercayaan itu sungguh mendarahdaging sehingga
apapun yang dikatakan pemimpin tersebut dipandang sebagai suatu amanah yang
harus dijalankan. Jadi pemimpin karismatik adalah seorang pemimpin yang
memiliki daya tarik personalitas yang luar biasa yang mampu mengendalikan
pikiran, kemauan, jiwa, dan raga dari para pengikutnya. Kepemimpinan karismatik
tidak mengandalkan otoritas dan eksternal power tetapi menggunakan daya tarik
personalitas. Karena tidak menggunakan power dan otoritas maka pemimpin
karismatik umumnya adalah pimpinan lembaga informal.
Robert
House kemudian mengembangkan pemikiran Weber dengan menyusun teori-teori ilmiah
mengenai kepemimpinan karimatik ini pada tahun 1977. Menurut House, seorang
pemimpin kharismatik haruslah memilki kriteria sebagai seorang yang tinggi tingkat
kepercayaan dirinya, kuat keyakinan dan idealismenya serta mampu mempengaruhi
orang lain (Robbins, 1994). Selain itu dirinya haruslah mampu berkomunikasi
secara persuasif dan memotivasi para bawahannya. Teori kepemimpinan karismatik
dari House menekankan kepada identifikasi pribadi, pembangkitan motivasi oleh
pemimpin dan pengaruh pemimpin terhadap tujuan-tujuan dan rasa percaya diri
para pengikut. Teori atribusi tentang karisma (Conger dan
Kanungo) lebih menekankan kepada identifikasi pribadi sebagai proses utama
mempengaruhi dan internalisasi sebagai proses sekunder. Teori konsep diri
sendiri menekankan internalisasi nilai, identifikasi sosial dan pengaruh
pimpinan terhadap kemampuan diri dengan hanya memberi peran yang sedikit
terhadap identifikasi pribadi. Sementara itu, teori penularan sosial
menjelaskan bahwa perilaku para pengikut dipengaruhi oleh pemimpin tersebut
mungkin melalui identifikasi pribadi dan para pengikut lainnya dipengaruhi
melalui proses penularan sosial. Pada sisi lain, penjelasan psikoanalitis
tentang karisma memberikan kejelasan kepada kita bahwa pengaruh dari pemimpin
berasal dari identifikasi pribadi dengan pemimpin tersebut.
Teori Atribusi
dari Kepemimpinan Kharismatik
Selain
Robert House, Conger dan Kanungo (dalam Yukl, 2001) pun mengusulkan teori
tentang kepemimpinan karismatik berdasarkan pada asumsi bahwa karisma merupakan
sebuah fenomena yang berhubungan (atribusional). Menurut teori ini, atribusi
pengikut dari kualitas karismatik bagi seorang pemimpin bersama-sama ditentukan
oleh perilaku, keterampilan pemimpinnya dan aspek situasi. Ada tiga asumsi yang
digunakan dalam menarik para pengikut pemimpin karismatik, yaitu: (1) daya
tarik dan keanggunan merupakan modal yang dibutuhkan untuk menarik pengikut,
(2) rasa percaya diri adalah kebutuhan dasar dari seorang pemimpin, dan (3)
pengikut akan mengikuti orang-orang yang mereka kagumi.
Menurut teori kepemimpinan kharismatik
Conger dan Kanungo dalam Robbins (2005), para pengikut terpicu pada kemampuan
heroik sang pemimpin atau kemampuan yang luar biasa ketika mereka mengamati
perilaku-perilaku tertentu dari sang pemimpin. Dari hasil studi yang dilakukan,
Conger dan Kanugo (dalam Robbins, 2005) mengidentifikasikan karakterteristik
personal pemimpin kharismatik dalam empat hal penting. Antara lain: (1)
Pemimpin yang memiliki visi (2) Memiliki keinginan untuk mengambil risiko demi
pencapaian visi, (3) Memiliki kepekaan pada kendala-kendala lingkungan, (4)
Memiliki kepekaan pada kebutuhan-kebutuhan para pengikut, (5) Menunjukkan
perilaku luar bisa. Kelima karakteristik di atas dapat dijelaskan dalam hal di
bawah ini:
Karakteristik-karakteristik Kunci dari
Pemimpin yang Karismatik
- visi dan artikulasi (Vision and articulation). Memiliki visi yang dinyatakan sebagai tujuan ideal yang menganggap bahwa masa depan lebih baik daripada status quo; dan mampu mengklarifikasi pentingnya misi yang bisa dipahami orang lain.
- Resiko pribadi (Personal risk). Bersedia mengambil resiko pribadi yang tinggi, mengeluarkan biaya besar, dan berkorban untuk mencapi visi tersebut.
- Kepekaan pada Lingkungan (Environmental sensitivity). Pemimpin karismatik mampu melakukan perhitungan realitis mengenai hambatan dari lingkungan dan kebutuhan sumberdaya untuk mengupayakan terjadinya perubahan.
- Sensitive dengan kebutuhan bawahan (Sensitivity to follower needs). Menerima kemampuan orang lain dan bertanggungjawab atas kebutuhan dan perasaan mereka.
- Perilaku yang tidak konvensional (Unconventional behavior). Memiliki perilaku yang dianggap baru dan berlawanan dengan kebiasaan. Pemimpin karismatik menunjukkan perilaku (konstruktif) diluar kebiasaan dan seringkali menentang norma (destruktif) yang mengakar dalam masyarakat, tetapi untuk perubahan ke arah perbaikan, misalnya reformasi.
Hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh Yukl
(2001) tentang lima karakteristik pemimin kharismatik ini. Pertama, kharisma
akan lebih mungkin dihubungkan dengan dengan pemimpin yang menyarankan sebuah
visi yang bertentangan dengan status quo. Kedua, kharisma akan lebih mungkin
dihubungkan dengan pemimpin yang bertindak secara tidak konvensional untuk
menggapai visi. Dalam arti, pemimpin melakukan sesuatu yang mengesankan bagi
para pengikut yang mengungkapkan bahwa ia adalah pemimpin yang luar biasa. Ciri
yang ketiga adalah pemimpin akan lebih mungkin dipandang sebagai pemimpin yang
kharismatik bila mereka melakukan pengorbanan diri, mengambil risiko pribadi
dan medatangkan biaya tinggi untuk mencapai visi. Pada titik ini, kepercayaan
menjadi komponen penting dari kharisma, dan pengikut lebih mempercayai pemimpin
yang tidak terlalu termotivasi dengan kepentingan pribadi. Ciri yang keempat
adalah pemimpin yang lebih percaya diri mengenai usulan mereka akan lebih
mungkin dipandang sebagai kharismatik daripada pemimpin yang kelihatan bimbang
dan ragu. Ciri kelima adalah para pengikut lebih menghubungkan kharisma dengan
pemimpin yang menggunakan pembuatan visi dan daya tarik persuasif daripada
dengan pemimpin yang menggunakan otoritas.
Yukl (2001) menjelaskan bahwa teori atribusi
tentang karisma lebih menekankan kepada identifikasi pribadi sebagai proses
utama mempengaruhi dan internalisasi sebagai proses sekunder. Proses pengaruh
utama adalah identifikasi pribadi, yang pengaruhnya diperoleh dari keinginan
seorang pengikut untuk menyenangkan dan meniru pemimpinnya. Di mana pmimpin
kharismatik terlihat begitu luar biasa karena mereka memiliki wawasan
strategis, pendirian yang kuat, keyakinan diri, perilaku yang tidak
konvensional dan energi yang dinamis, bahwa bawahan mengidolakan pemimipin
mereka dan ingin menjadi seperti mereka. Pengaruh dari seorang pemimpin
kharismatik juga disebabkan oleh internalisasi nilai dan keyakinan baru oleh
para pengikut. Conger (1989, dalam Yukl, 2001) menenkan bahwa penting bagi
pengikut untuk mengambil sikap dan keyakinan pemimpin tentang pekerjaan
daripada hanya meniru aspek buatan dari perilaku pemimpin seperti perangai,
gerak tubuh, dan pola bicara. Seorang pemimpin yang kharismatik menyatakan visi
yang memberikan inspirasi berfungsi sebagai sebuah sumber motivasi instrinsik
untuk menjalankan misi organisasi.
Robbins (2005) menyebutkan ada empat tahap
dalam proses mempengaruhi yang dilakukan oleh seorang pemimpin kharismatik. Tahap
pertama adalah pernyataan visi sang pemimpin. Visi (vision) adalah strategi
jangka panjang untuk mencapai tujuan atau serangkaian tujuan. Visi yang
dikemukakan sang pemimpin kharismatik memberi nuansa kontinuitas bagi para
pengikut di mana ia berusaha menghubungkan keadaan saat ini dengan masa depan
yang lebih baik bagi organisasi. Pada tahap kedua, setelah visi dan misi
ditetapkan sang pemimpin kemudian mengkomunikasikan ekspektasi kinerja yang
tinggi dengan keyakinan bahwa para pengikutnya mampu mencapai visi yang
diungkapkan. Efek dari keyakinan ini membuat para pengikut semakin percaya
diri.
Setelah sang pemimpin mengkomunikasikan
ekspektasinya, pada tahap ketiga, pemimpin kharismatik menyatakannya melalui
kata-kata dan tindakan, seperangkat nilai yang baru, dan melalui perilakunya,
memberikan teladan untuk ditiru para pengikutnya. Sebuah visi harus ada
pernyataan visi-nya (vision statement), yaitu pernyataan formal visi atau misi
organisasi dalam tindakan. Pemimpin yang karismatik bisa menggunakan pernyataan
visi untuk menanamkan tujuan dan sasaran ke benak para pengikutnya. Pada
akhirnya, pada tahap keempat, pemimpin karismatik melibatkan dirinya secara
emosional dan acap kali berperilaku yang tidak biasa untuk menunjukkan
keberanian dan pendiriannya atas visi yang telah ditetapkan. Terjadilah
penularan emosional dalam diri pemimpin yang karismatik yang “ditangkap” oleh
para pengikutnya.
Teori kepemimpinan karismatik juga
dikembangkan oleh Samir, House dan Arthur berdasarkan konsep diri. Teori tersebut
dibangun atas teori kepemimpinan karismatik yang sebelumnya sudah dikembangkan
oleh House. Beberapa indikator tentang karisma masih tetap sama, termasuk
afeksi para pengikut terhadap pemimpin, keterlibatan emosional dalam misi
kelompok atau organisasi, keyakinan bahwa para pemimpin tersebut dapat member
kontribusi terhadap keberhasilan misi, serta komitmen terhadap tujuan-tujuan
kinerja yang tinggi. Namun demikian, dalam teori yang baru tersebut para
pemimpin karismatik menghidupkan sejumlah proses motivasional yang sebelumnya
tidak dimasukkan ke dalam teori tersebut oleh House.
Teori Konsep
Diri dari Kepemimpinan Kharismatik
Shamir et.al (dalam Yukl, 2001) memperluas
teori House dengan menggabungkan perkembangan baru dalam pemikiran tentang
motivasi manusia dan gambaran lebih rinci tentang pengaruh pemimpin dan
pengikut. Asumsi mereka mengenai motivasi manusia
antara lain: (1) perilaku adalah ekspresi dari perasaan seseorang, nilai dan
konsep diri dan juga berorientasi sasaran dan pragmatis; (2) konsep diri
seseorang terdiri dari hierarki identitas dan nilai sosial; (3) orang secara
intrinsik termotivasi untuk memperkuat dan mempertahankan kepercayaan diri dan
nilai diri mereka, dan (4) orang secara intrinsik termotivasi untuk memelihara
konsistensi di antara berbagai komponen dari konsep diri mereka dan antara
konsep diri mereka dengan perilaku.
Teori
konsep diri dari kepemimpinan kharismatik menjelaskan bahwa indikator kharisma
terlihat dari hubungan antara pemimpin dan pengikut. Seorang pemimpin kharismatik
memiliki pengaruh yang dalam dan tidak biasa pada pengikut-pengikutnya. Para
pengikut selalu merasa bahwa apa yang diyakini oleh pemimpin itu benar adanya
dan mereka akan berusaha untuk mematuhinya, ada kasih sayang kepada pemimpin
dan secara emosional terlibat dalam misi kelompok atau oraganisasi serta
memilki sasaran kinerja yang tinggi.
Ciri
dan perilaku pemimpin juga menjadi penentu penting dari pemimpin kharismatik.
Menurut teori konsep diri, para pemimpin kharismatik lebih besar kemungkinannya
untuk memiliki kebutuhan yang kuat akan kekuasaan, keyakinan diri yang tinggi
dan pendirian kuat dalam keyakinan dan idealisme mereka sendiri. Beberapa ciri
dan perilaku penting dari pemimpin kharismatik dalam memperngaruhi sikap dan
perilaku pengikut adalah (1) menyampaikan visi yang menarik; (2) menggunakan
bentuk komunikasi yang kuat dan ekspresif saat menyampaikan visi; (3) mengambil
risiko pribadi dan membuat pengorbanan diri untuk mencapai visi; (4)
menyampaikan harapan (ekspektasi) yang tinggi; (5) memperlihatkan keyakinan
akan pengikut; (6) pembuatan model peran dari perilaku yang konsisten dengan
visi; (7) mengelola kesan pengikut akan pemimpin; (8) membangun identifikasi
dengan kelompok atau organisasi dan (9) memberikan kewenangan kepada pengikut.
Proses
pengaruh yang mempengaruhi perilaku sosial dalam kepemimpinan karismatik
teridiri atas identifikasi pribadi, identifikasi sosial, internasiliasi dan
kemampuan diri sendiri. Pertama, identifikasi pribadi (personal
identification), identifikasi pribadi merupakan sebuah proses mempengaruhi yang
dyadic yang terjadi pada beberapa orang pengikut namun tidak pada yang lainnya.
Proses ini akan paling banyak terjadi pada para pengikut yang mempunyai rasa
harga diri rendah, identitas diri rendah, dan kebutuhan yang tinggi untuk
menggantungkan diri kepada tokoh-tokoh yang berkuasa. Shamir dan kawan-kawan
mengakui bahwa identifikasi pribadi dapat terjadi pada beberapa orang pengikut
dari para pemimpin karismatik, namun mereka kurang menekankan pada penjelasan tersebut
karena masih ada proses-proses lainnya.
Kedua,
identifikasi sosial (sosial identification). Identifikasi sosial merupakan
sebuah proses mempengaruhi yang menyangkut defenisi mengenai diri sendiri dalam
hubungannya dengan sebuah kelompok atau kolektivitas. Para pemimpin karismatik
meningkatkan identifikasi sosial dengan membuat hubungan antara konsep diri
sendiri para pengikut individual dan nilai-nilai yang dirasakan bersama serta
identitas-identitas kelompok. Seorang pemimpin karismatik dapat meningkatkan
identifikasi sosial dengan memberi kepada kelompok sebuah identitas yang unik,
yang membedakan kelompok tersebut dengan kelompok-kelompok yang lain.
Ketiga,
internalisasi (internalization). Para pemimpin karismatik mempengaruhi para
pengikut untuk merangkul nilai-nilai baru, namun lebih umum bagi para pemimpin
karismatik untuk meningkatkan kepentingan nilai-nilai yang ada sekarang pada
para pengikut dan dengan menghubungkannya dengan sasaran-sasaran tugas. Para
pemimpin karismatik juga menekankan aspek-aspek simbolis dan ekspresif
pekerjaan itu, yaitu membuat pekerjaan tersebut menjadi lebih berarti, mulia,
heroic, dan secara moral benar. Para pemimpin karismatik tersebut juga tidak
menekankan pada imbalan-imbalan ekstrinsik dalam rangka mendorong para pengikut
untuk memfokuskan diri kepada inbalan-imbalan intrinsik dan meningkatkan
komitmen mereka kepada sasaran-sasaran objektif.
Keempat, kemampuan diri sendiri
(self-efficacy). Efikasi diri individu merupakan suatu keyakinan bahwa individu
tersebut mampu dan kompeten untuk mencpai sasaran tugas yang sukar. Efikasi
diri kolektif menunjuk kepada persepsi para anggota kelompok bahwa jika mereka
bersama-sama, mereka akan dapat menghasilkan hal-hal yang luar biasa. Para
pemimpin karismatik meningkatkan harapan dari para pengikut bahwa usaha-usaha
kolektif dan individual mereka untuk melaksanakan misi kolektif, akan berhasil.
Berbedea dengan teori atribusi dari kepemimpinan kharismatik, identifikasi
pribadi tidak ditekankan. Dalam teori konsep diri sumber yang terpenting adalah
indentifikasi sosial, internalisasi dan kemampuan diri sendiri dan kolektif.
Pemimpin
karismatik: Dilahirkan atau Diciptakan
Apakah pemimpin karismatik memang terlahir
dengan sifat-sifat istimewa? Atau, bisakah orang belajar menjadi pemimpin
karismatik? Ada yang berpendapat bahwa seseorang dilahirkan dengan sifat-sifat
yang membuat mereka karismatik. Robbins (2005) menjelaskan bahwa penelitian
menunjukkan bahwa sifat-sifat individu juga terkait dengan kepemimpinan
karismatik. Pemimpin yang karismatik cenderung bersifat terbuka, percaya diri,
dan memiliki tekad yang kuat untuk mencapai hasil. Walaupun ada yang
berpendapat demikian, bahwa kharisma merupakan sebuah anugerah namun ada juga
yang beranggapan bahwa kharisma yang adalah anugerah itu juga dapat dipelajari.
Sebagian besar ahli percaya seseorang juga bisa dilatih untuk menampilkan
perilaku yang karismatik dan mendapat manfaat dari menjadi seorang pemimpin
yang karismatik. Robbins (2005) mengatakan bahwa seseorang bisa belajar menjadi
karismatik dengan mengikuti proses yang terdiri atas tiga tahap.
Pertama, seseorang perlu mengembangkan aura
karisma dengan cara mempertahankan cara pandang yang optimis; menggunakan
kesabaran sebagai katalis untuk menghasilkan antusiasme; dan berkomunikasi
dengan keseluruhan tubuh, bukan cuma dengan kata-kata. Kedua, seseorang menarik
orang lain dengan cara menciptakan ikatan yang menginspirasi orang lain
tersebut untuk mengikutinya. Ketiga, seseorang
menyebarkan potensi kepada para pengikutnya dengan cara menyentuh emosi mereka.
Konsekuensi dari
Kepemimpinan Kharismatik
Dari
studi mengenai kepemimpinan historis mengungkapkan bahwa ada kharismatik yang
positif dan negatif. Sebuah pendekatan yang lebih baik untuk membedakan antara
kharismatik yang positif dan negatif adalah dalam hal nilai kepribadian mereka
(House & Howell, 1992; Howell, 1988; Musser, 1987, dalam Yukl, 2001). Tidak
semua pemimpin yang karismatik selalu bekerja demi kepentingan organisasinya.
Banyak dari pemimpin ini menggunakan kekuasaan mereka untuk membangun
perusahaan sesuai dengan citra mereka sendiri. Mereka sering kali
mencampuradukkan batas-batas kepentingan pribadi dengan kepentingan organisasi.
Hal yang paling buruk, karisma yang egois ini membuat si pemimpin menempatkan
kepentingan dan tujuan-tujuan pribadi di atas tujuan organsisai (Sashkin,
2003). Mereka tidak suka dikritik, dikelilingi oleh orang-orang yang senantiasa
patuh dan memiliki sifat “asal bapak senang” dan menciptakan iklim yang membuat
orang takut mempertanyakan atau menantang si “raja” atau “ratu” bila si
pemimpin melakukan kesalahan (Robbins, 2005).
Yukl
(2001) menjelaskan bahwa kharismatik negatif memiliki orientasi kekuasaan
secara pribadi. Pada sisi ini, mereka (pemimpin kharismatik) lebih menekankan
pengaruh pada identifikasi diri ketimbang internaliasi. Dan secara sengaja
beusaha untuk lebih menanmkan kesetiaan kepada diri mereka sendiri daripada
idealisme yang harus digapai. Pemimpin kharismatik menggunakan daya tarik
ideologis tapi hanya untuk memperoleh kekuasaan, di mana setelahnya ideologi
itu diubah secara sembarangan sesuai dengan sasaran pribadi sang pemimpin. Sang
pemimpin kharismatik berusah untuk mendominasi dan menaklukan pengikut dengan
membuat mereka tetap lemah dan bergantung pada pemimpin. Selain itu, otoritas
pengambilan keputusan berpusat pada sang pemimpin, minus penghargaan kepada
pengikut dan menggunakan hukuman untuk memanipulasi pengikut. Informasi
dibatasi demi memelihara pencitraan diri sekaligus pembenaran diri dari segala
kesalahan dan membesar-besarkan ancaman eksternal kepada organisasi. Perilaku
negatif ini mencerminkan perhatian yang lebih besar pada pemujaan diri dan
memelihara kekuasaan daripada mengusahakan kesejahteraan pengikut.
Berbeda
dengan kharismatik yang negatif, kharismatik positif memiliki orientasi
kekuasaan sosial. Pemimpin kharismatik lebih menekankan internalisasi dari
nilai-nilai daripada identifikasi pribadi. Mereka berusaha untuk menanamkan
kesetiaan kepada ideologi lebih daripada kesetiaan kepada diri sendiri.
Sedangkan otoritas didelegasikan hingga batas yang cukup besar, informasi
dibagikan secara terbuka, mendorong partisipasi dalam pengambilan keputusan dan
penghargaan digunakan untuk menguatkan perilaku yang konsisten dengan misi dan
sasaran dari organisasi. Hasilnya adalah kepemimpinan mereka akan menguntungkan
bagi pengikut walaupun konsekuensi yang mendukung tidak dapat dihindari jika
strategi yang didorong oleh pemimpin tidak tepat.
Sisi Gelap dari Kharisma
Optimisme dan keyakinan diri amat penting
untuk mempengaruihi orang lain agar mendukung visi dari pemimpin, tetapi
optimisme yang berlebihan akan menyulitkan sang pemimpin untuk mengenali
kekurangan dalam visi itu. Pengalaman akan
keberhasilan dan pemujaan bawahan dapat mengakibatkan pemimpin percaya bahwa
penilaiannya tidak bisa salah. Dalam pencarian yang tekun untuk mencapai visi
itu, seorang pemimpin kharismatik dapat mengabaikan dan menolak bukti bahwa
visinya tidak realistis dan mengarah pada kegagalan. Dan para pemimpin yang
percaya akan pemimpin itu akan terhalang untuk menunjukkan kekurangan atau
menyajikan perbaikan.
Di pihak lain, perilaku impulsive dan tidak
konvensional yang yang yang menyebabkan beberapa orang memandang seorang
pemimpin yang kharismatik akan tersinggung dan melawan orang lain yang
memandang perilaku itu sebagai hal yang mengganggu dan tidak tepat. Pendirian
yang kuat dari pemimpin terhadap ideology yang tidak tradisional akan
mengasingkan orang yang tetap teguh pada cara-cara tradisional dalam melakukan
berbagai hal. Konsekuensi dari kharisma yang negatif dapat diringkaskan dalam
tabel berikut:
Beberapa
Konsekuensi Negatif dari Pemimpin Kharismatik
a)
Keinginan akan penerimaan oleh pemimpin menghambat kecaman dari
pengikut
b)
Pemujaan oleh pengikut menciptkan khayalan akan tidak dapat
berbuat kesalahan
c)
Keyakinan dan optimisme yang berlebihan membutakan pemimpin dari
bahaya nyata
d)
Penolakan akan masalah dan kegagalan mengurangi pembelajaran
organisasi
e)
Proyek risiko yang terlalu besar akan besar kemungkinannya utnuk
gagal
f)
Mengambil pujian sepenuhnya atas keberhasilan akan mengasingkan
beberapa pengikut yang penting
g)
Perilaku impulsif yang tidak tradisional menciptakan musuh dan
juga orang-orang yang percaya
h)
Kebergantungan kepada pemimpin akan menghambat penerus yang
kompeten
i)
Kegagalan untuk mengembangkan penerus menciptakan krisis
kepemimpinan pada akhirnya
Sumber,
GaryYukl. 2001. Kepemimpinan dalam Organisasi. Terjemahan Budi Supriyanto.
2010. Jakarta: Indeks.
Sisi Terang dari
Kharisma
Kharisma juga memiliki sisi yang terang.
Oleh Yukl (2001) sisi terang dari kharisma atau pengaruh dari kharisma posotif
antara lain disebutkan bahwa para pengikut akan jauh lebih baik bila bersama
dengan pemimpin kharismatik yang positif ketimbang pemimpin kharismatik yang
negatif. Bersama pemimpin kharismatik positif, para pengikut memiliki potensi
mengalami pertumbuhan psikologis dan perkembangan kemampuan mereka dan
organisasi akan lebih dapat beradaptasi terhadap sebuah lingkungan yang
dinamis, bermusuhan dan kompetitif. Pemimpin yang kharismatik positif biasanya
mampu menciptakan ssebuah budaya yang “berorientasi keberhasilan” (Harrison,
1987 dalam Yukl, 2010), “sistem kinerja yang tinggi” (Vail, 1978 dalam Yukl,
2010). Di sini, dapat dikatakan bahwa organisasi telah memahami misi yang
mewujudkan nilai-nilai sosial dan bukan hanya keuntungan atau pertumbuhan, para
anggota dari semua tingkatan juga diberikan kewenangan untuk membuat putusan
penting bagaimana menerapkan strategis dan melakukan pekerjaan mereka,
komunikasinya terbuka dan informasi dibagikan, dan struktur dan sistem
organisasi mendukung misinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar